
GRAGEPOLITAN – Berdiri megah di kaki Gunung Ciremai, Gedung Perundingan Linggarjati tetap kokoh menjaga memori kolektif bangsa Indonesia. Bangunan bersejarah yang terletak di Desa Linggarjati, Kabupaten Kuningan ini merupakan lokasi krusial tempat berlangsungnya kesepakatan politik antara pemerintah Indonesia dan Belanda pada 11-15 November 1946.
Memasuki area museum, pengunjung disambut oleh arsitektur bergaya kolonial yang terawat dengan sangat baik. Di dalam gedung, tata letak ruang utama perundingan masih dipertahankan sesuai aslinya, lengkap dengan meja-meja panjang beralas kain hijau dan bendera dari negara-negara delegasi yang terlibat.
Sejumlah koleksi foto dokumentasi hitam-putih yang berjejer di dinding memberikan gambaran visual mengenai suasana perundingan yang dihadiri oleh tokoh-tokoh besar seperti Sutan Sjahrir (Indonesia), Wim Schermerhorn (Belanda), serta Lord Killearn dari Inggris sebagai penengah.
Selain area interior, kompleks gedung ini juga memiliki taman luas yang dilengkapi dengan monumen batu berisi isi pokok Perjanjian Linggarjati. Relief pada monumen tersebut menggambarkan momen jabat tangan antar-delegasi, yang melambangkan semangat diplomasi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Melihat langsung ruang perundingan ini memberikan pemahaman mendalam bahwa kemerdekaan kita tidak hanya diperjuangkan melalui kontak senjata, tetapi juga melalui kecerdasan di meja diplomasi,” ujar salah satu pengunjung di lokasi.
Linggarjati terus beroperasi sebagai museum sejarah sekaligus objek wisata edukasi unggulan di Kabupaten Kuningan. Keberadaannya diharapkan dapat terus menginspirasi generasi muda mengenai pentingnya menjaga kedaulatan negara dan menghargai sejarah panjang perjuangan bangsa.





Discussion about this post