
GRAGEPOLITAN – Cirebon, 3 Agustus 2026 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupaya meningkatkan perannya sebagai katalis dalam pengembangan ekonomi daerah dengan memperkuat ekosistem pembiayaan pada komoditas unggulan. Di Kabupaten Cirebon, OJK memfokuskan transformasi komoditas garam sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi melalui peran optimal Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah. Ini dilakukan dengan mempererat sinergi antara pemerintah daerah, industri keuangan, pelaku usaha, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan. Strategi ini berdasar pada potensi ekonomi Kabupaten Cirebon sebagai sentra produksi garam di Jawa Barat yang signifikan.
Kebutuhan garam industri di Cirebon diperkirakan mencapai 100.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru mencapai sekitar 12.282 ton per tahun. Kesenjangan ini bukan hanya menyoroti tantangan produksi, tetapi juga membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas, investasi, pembiayaan, pengembangan industri pengolahan, serta menciptakan nilai tambah lebih bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari komitmen OJK dalam Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED), digelar diskusi kelompok terfokus bertema “Peningkatan Potensi Komoditas Garam Melalui Pembiayaan Sektor Perbankan.” Kegiatan ini mempertemukan berbagai pihak untuk menyatukan langkah demi memperkuat ekosistem usaha garam yang kompetitif dan berkelanjutan.
Diskusi ini menjadi bagian dari implementasi PED OJK yang bertujuan memperkuat kerja sama antara pemerintah daerah, industri keuangan, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain dalam mengembangkan komoditas unggulan daerah melalui pembiayaan berkelanjutan. Komoditas garam diprioritaskan karena masih memiliki ruang pengembangan produktivitas dan kualitas, serta peluang memperkuat rantai pasok. Oleh karena itu, dukungan pembiayaan terintegrasi dengan penguatan ekosistem usaha sangat penting untuk memaksimalkan potensi ini.
Selama diskusi, peserta mengidentifikasi berbagai kendala yang menghambat pertumbuhan industri garam lokal. Tantangan tersebut meliputi produktivitas dan kualitas panen yang belum konsisten, keterbatasan teknologi produksi, ketergantungan cuaca, serta tata kelola usaha dan pencatatan keuangan yang belum sistematis. Sektor perbankan juga menyampaikan dua kendala utama: terbatasnya pemahaman petambak dalam menggunakan produk pembiayaan dan ketidaksesuaian skema cicilan bulanan dengan pola pendapatan musiman petambak. Temuan ini menjadi masukan penting untuk merumuskan skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik usaha garam.
Darmansyah, Deputi Komisioner di OJK, menekankan bahwa pengembangan komoditas unggulan daerah memerlukan kolaborasi lintas sektor untuk memberikan nilai tambah optimal bagi masyarakat.
“Program Pengembangan Ekonomi Daerah merupakan wujud komitmen OJK dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mengembangkan komoditas unggulan daerah. Pengembangan komoditas garam tidak dapat dilakukan secara parsial, OJK tidak hanya mendorong perluasan akses pembiayaan, tetapi juga memastikan pembiayaan tersebut didukung oleh ekosistem usaha yang kuat sehingga mampu meningkatkan produktivitas, menciptakan nilai tambah, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Darmansyah.
Anggota Komisi XI DPR RI, Kardaya Warnika, menyampaikan bahwa komoditas garam memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kabupaten Cirebon apabila didukung oleh kebijakan dan ekosistem yang tepat.
“Komoditas garam memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi Kabupaten Cirebon. Karena itu, kami mengapresiasi OJK Cirebon yang telah mempertemukan pemerintah, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum untuk merumuskan solusi bersama. Sinergi seperti ini penting agar dukungan pembiayaan benar-benar mampu menjawab kebutuhan petambak dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Kardaya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bapperida Kabupaten Cirebon, Dangi, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Cirebon untuk terus memperkuat pengembangan komoditas garam melalui kolaborasi lintas sektor.
“FGD ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan langkah seluruh pemangku kepentingan. Berbagai masukan yang mengemuka akan menjadi bahan bagi Pemerintah Kabupaten Cirebon dalam memperkuat strategi pengembangan komoditas garam, termasuk mendorong skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik usaha petambak,” tambah Dangi.
Merangkum hasil diskusi, Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib menegaskan bahwa peran OJK tidak berhenti pada upaya mendorong perluasan akses pembiayaan, tetapi juga memastikan pembiayaan mampu menjadi katalis bagi pengembangan ekosistem usaha secara menyeluruh.
“FGD hari ini menjadi langkah awal untuk menyusun skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik usaha garam. Berbagai masukan dari pemerintah daerah, petambak, dan industri jasa keuangan menjadi bekal penting bagi OJK Cirebon dalam memperkuat kolaborasi sehingga pembiayaan yang diberikan tidak hanya mudah diakses, tetapi juga benar-benar mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petambak garam,” tegas Agus.
Melalui FGD ini, OJK Cirebon bersama seluruh pemangku kepentingan menyepakati pentingnya membangun skema pembiayaan yang tidak hanya memperkuat akses permodalan bagi petambak, tetapi juga mendukung penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, kepastian pasar, serta hilirisasi komoditas garam sebagai salah satu sektor unggulan Kabupaten Cirebon. Temuan mengenai ketidakcocokan skema cicilan bulanan dengan pola pendapatan musiman petambak juga menjadi salah satu poin yang akan ditindaklanjuti, dengan mendorong perbankan untuk mengeksplorasi skema pembayaran yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap siklus usaha garam.
Sebagai bagian dari Program Pengembangan Ekonomi Daerah, OJK Cirebon akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendorong lahirnya berbagai model pembiayaan yang adaptif terhadap karakteristik komoditas unggulan daerah. Melalui kolaborasi tersebut, OJK Cirebon optimis potensi garam Kabupaten Cirebon dapat berkembang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah yang kompetitif, bernilai tambah, dan berkelanjutan.




Discussion about this post