
GRAGEPOLITAN – Teknologi digital memudahkan akses informasi, termasuk pengetahuan keagamaan. Namun, kemudahan ini harus diimbangi kemampuan memahami dan menyaring informasi agar teknologi tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga memperkuat literasi, karakter, dan nilai keislaman.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Talkshow Kebangsaan di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Sabtu (7/11/2026). Bertema Mengukuhkan Literasi Al-Qur’an Gen-Z di Era Disrupsi Digital melalui Klik, Baca, Tadabbur, kegiatan ini mendorong generasi muda mendekatkan diri kepada Al-Qur’an melalui teknologi digital.
Menurutnya, tema tersebut relevan dengan kehidupan generasi muda. Kebiasaan mengakses informasi melalui ponsel perlu disertai kemampuan membaca kritis dan memahami maknanya.
Ia juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial cenderung menyajikan informasi sesuai minat dan pandangan pengguna. Tanpa kecakapan literasi, generasi muda rentan menerima informasi keliru, termasuk pemahaman keagamaan yang tidak utuh.
“Di sinilah pentingnya kita tidak berhenti hanya pada tahap klik. Generasi muda perlu melanjutkannya dengan membaca dan tadabbur. Membaca bukan sekadar melihat rangkaian tulisan, tetapi memahami konteks dan maknanya. Sementara tadabbur mengajak kita untuk merenungkan serta mengambil pelajaran dari apa yang dibaca. Dengan begitu, Al-Qur’an tidak hanya menjadi bacaan, tetapi juga pedoman dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wakil Wali Kota menyampaikan bahwa literasi Al-Qur’an perlu dikembangkan secara menyeluruh. Kemampuan membaca ayat-ayat suci harus diiringi dengan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya cakap dalam memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki landasan etika, moral, dan spiritual yang kuat.
Menurutnya, makna santri di era modern semakin luas. Santri tidak terbatas pada mereka yang menempuh pendidikan di pesantren, tetapi juga mencakup generasi muda yang mampu menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat beraktivitas di ruang digital.
“Pemerintah Kota Cirebon mendukung berbagai inisiatif yang mendorong penguatan literasi dan karakter generasi muda. Membangun infrastruktur fisik kota memang penting, tetapi membangun pola pikir dan kualitas sumber daya manusia juga tidak kalah penting. Kami berharap anak-anak muda dapat menjadi agen yang menghadirkan konten dan narasi positif, menyejukkan, ilmiah, serta dapat dipertanggungjawabkan di ruang digital,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dr. H. Fahruddin Faiz sebagai narasumber dalam talkshow. Ia berharap pemikiran dan wawasan yang disampaikan dapat memperkaya cara pandang peserta dalam memahami agama melalui pendekatan yang rasional dan kritis, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Cirebon, KH. Mustofa, mengajak seluruh peserta untuk lebih bijak dalam memanfaatkan perangkat digital. Menurutnya, hampir semua kelompok usia kini akrab dengan telepon genggam. Oleh karena itu, penggunaan perangkat tersebut sebaiknya diarahkan pada kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Ia juga mengingatkan pentingnya meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Menurutnya, kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak cukup diwujudkan melalui kemampuan melafalkan ayat-ayatnya, tetapi harus disertai pemahaman dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Berapa lama kita memegang telepon genggam setiap hari, membuka berbagai informasi dan melihat beragam konten? Mari kita sisihkan waktu untuk sesuatu yang memiliki nilai ibadah, salah satunya mempelajari Al-Qur’an. Jangan sampai perangkat yang kita genggam hanya menjadi sarana hiburan, tetapi manfaatkan juga untuk menambah ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pesannya.
Di sisi lain, Ketua Umum HMJ Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQTAF) 2026, M. Nurul Amin, menyampaikan bahwa IQTAF FEST XIV menghadirkan sejumlah perlombaan, di antaranya Musabaqah Qira’atul Kutub, Musabaqah Tilawatil Qur’an, dan Musabaqah Hifzil Qur’an. Rangkaian perlombaan tersebut diikuti oleh sekitar 80 peserta dari berbagai instansi dan daerah, termasuk Cirebon, Majalengka, serta sejumlah wilayah lainnya di Jawa Barat.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan juga sarana untuk memperkuat tradisi keilmuan Islam dan meningkatkan kemampuan generasi muda dalam memahami Al-Qur’an.
Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini berangkat dari kenyataan bahwa tingginya penggunaan perangkat digital belum tentu sejalan dengan meningkatnya literasi keagamaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda agar Al-Qur’an tetap hadir dan menjadi bagian dari keseharian mereka.
“Melalui konsep klik, baca, dan tadabbur, kami ingin mengajak generasi muda menjadikan teknologi sebagai pintu masuk untuk mengenal Al-Qur’an lebih dekat. Namun, prosesnya tidak boleh berhenti pada pencarian informasi. Harus ada upaya untuk membaca secara utuh, memahami kandungannya, kemudian menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan,” ujarnya.
Nurul Amin juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak, khususnya Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, PCNU Kota Cirebon melalui LAKPESDAM, Asosiasi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir se-Indonesia, para alumni lintas angkatan, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut. Kolaborasi dengan LAKPESDAM PCNU Kota Cirebon, menurutnya, menjadi bagian penting dalam memperkuat penyelenggaraan kegiatan sekaligus memperluas ruang diskusi keislaman di kalangan mahasiswa.
“Saya berharap Melalui peringatan Hari Santri Nasional dan IQTAF FEST XIV, penyelenggara berharap tumbuh kesadaran bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai agama, intelektualitas, dan karakter,” tuturnya.




Discussion about this post