
GRAGEPOLITAN – Tradisi cuci gamelan Sekaten kembali digelar di Kesultanan Kanoman Cirebon, dipimpin oleh Sultan Keraton Kanoman XII, Sultan Raja Muhammad Emirudin, yang dalam pelaksanaannya diwakili oleh Patih Keraton Kanoman, Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran. Acara ini berlangsung pada 22 Agustus 2026.
Prosesi yang penuh kekhidmatan ini menarik kehadiran masyarakat dari berbagai daerah. Cuci gamelan Sekaten tetap terpelihara sebagai bagian dari warisan budaya Kesultanan Kanoman.
Kegiatan dimulai dengan mencuci gong utama gamelan Sekaten. Gong tersebut dibersihkan menggunakan air campuran bunga, kulit kelapa serabut, dan bata merah yang telah dihaluskan.
Sebagai lambang kepemimpinan Kesultanan Kanoman, Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran mengantar gong utama (bibit) ke bangsal gamelan, mewakili kemakmuran yang diharapkan membawa keberkahan bagi seluruh warga, terutama masyarakat Cirebon.
Menurut Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, tradisi cuci gamelan Sekaten mengandung nilai filosofis, menjadi simbol keagungan serta harapan akan kesejahteraan masyarakat.
“Cuci gamelan Sekaten ini merupakan bagian dari tradisi yang terus kami jaga. Gong bibit ini memiliki makna sebagai simbol keagungan, serta harapan akan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.”
Setelah prosesi cuci gamelan Sekaten berakhir, suasana semakin semarak. Orang-orang dari berbagai daerah bersemangat memperebutkan air yang digunakan selama pencucian gamelan.
Ibu Atin, salah seorang warga dari Kerangkeng, dengan sengaja datang untuk melihat langsung prosesi cuci gamelan Sekaten dan turut serta dalam perebutan air tersebut.
Air tersebut rencananya akan dipakai sebagai salah satu syarat untuk lahan pertaniannya, dengan harapan bisa membuat tanah lebih subur dan menghasilkan panen yang melimpah.
“Saya sengaja datang untuk menyaksikan cuci gamelan Sekaten dan ikut berebut air. Nantinya air ini akan digunakan untuk syarat sawah, mudah-mudahan sawah menjadi subur dan hasil pertanian juga bagus.”
Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi cuci gamelan Sekaten tetap memiliki makna penting dalam kehidupan mereka.
Selain sebagai warisan budaya, tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan antara masyarakat dan Kesultanan Kanoman serta mengenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Cuci gamelan Sekaten lebih dari sekadar prosesi budaya; itu juga melambangkan harapan masyarakat untuk mendapatkan keberkahan, kesuburan, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Reporter : Woelan
Foto Grafer : Ali Bisma




Discussion about this post