
GRAGEPOLITAN – Langkah untuk mendorong kemandirian ekonomi di pondok pesantren terus diperkuat melalui peningkatan kapasitas para pelaku usaha di lingkungan pesantren. Upaya ini menjadi inti dari kegiatan Upskilling UMKM Pondok Pesantren Jawa Barat yang diselenggarakan di Pondok Ilmu Derma Agung (PIDERMA), Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, pada Kamis (25/6/2026).
Acara ini merupakan hasil sinergi antara PT Pertamina EP Zona 7, SKK Migas, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), ISKI, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, turut hadir secara langsung dalam kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Wali Kota menggarisbawahi peran penting pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama serta wadah pembentukan karakter generasi muda. Namun, melihat perkembangan zaman, ia menekankan bahwa pesantren juga perlu beradaptasi dengan mengembangkan kemandirian ekonomi agar semakin tangguh dan berkelanjutan.
Beliau menambahkan bahwa berbagai unit usaha di lingkungan pesantren harus dikelola dengan cara yang lebih profesional agar mampu tumbuh dan bersaing secara efektif dalam menghadapi perubahan dinamika pasar yang terus berkembang.
“Pesantren selama ini telah menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak dan berilmu. Kini saatnya kita memperkuatnya dengan fondasi ekonomi yang sehat. Usaha-usaha yang ada di lingkungan pesantren harus mampu berkembang melalui pengelolaan yang profesional, produktif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” ujar Wali Kota.
Ia menyampaikan apresiasi kepada PT Pertamina EP Zona 7 bersama SKK Migas yang telah menghadirkan program peningkatan kapasitas bagi pelaku UMKM pesantren di Kota Cirebon. Menurutnya, dipilihnya Pondok Ilmu Derma Agung sebagai lokasi pelaksanaan menjadi sebuah kehormatan sekaligus momentum untuk memperkuat ekosistem ekonomi pesantren di daerah.
Wali Kota menilai materi yang diberikan dalam pelatihan sangat relevan dengan kebutuhan pelaku UMKM saat ini, mulai dari penyusunan Harga Pokok Penjualan (HPP), strategi pemasaran, hingga pemanfaatan digital marketing untuk memperluas jangkauan pasar.
“Keterampilan seperti menghitung biaya produksi, menyusun strategi pemasaran, hingga memanfaatkan teknologi digital merupakan bekal penting bagi pelaku UMKM pesantren agar mampu meningkatkan daya saing usahanya. Kami berharap seluruh peserta benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dan mengembangkan usaha masing-masing,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan para praktisi bisnis dan akademisi yang memberikan pendampingan kepada peserta. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan lembaga pendidikan dapat bersama-sama membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Pemerintah Kota Cirebon siap menjadi mitra yang mendukung tumbuhnya UMKM pesantren. Tugas kami adalah menciptakan iklim usaha yang kondusif sehingga ilmu yang diperoleh dalam pelatihan ini dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi perkembangan ekonomi pesantren,” tambahnya.
Wali Kota mengimbau seluruh peserta untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap rangkaian kegiatan. Ia menekankan bahwa keberhasilan suatu pelatihan tidak ditentukan oleh jumlah peserta yang hadir, melainkan oleh sejauh mana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan guna meningkatkan kualitas pengelolaan usaha.
Melalui program ini, Pemerintah Kota Cirebon berharap semakin banyak pelaku UMKM berbasis pesantren yang mampu mengembangkan usahanya secara profesional, mengoptimalkan teknologi digital, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang mendukung pembangunan daerah.
Di sisi lain, Pengurus Pondok Pesantren PIDERMA, Gus Hanif, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk upaya bersama dalam mendorong kemandirian ekonomi pesantren melalui kolaborasi berbagai pihak.
“Program ini menjadi langkah awal yang baik untuk memperkuat kemandirian pesantren. Kami bersyukur Pondok Ilmu Derma Agung dipercaya menjadi tuan rumah dan dapat berkolaborasi bersama Pertamina, Kemenko PMK, ISKI, serta para pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat,” ujarnya.
Ia berharap setiap pondok pesantren ke depan mampu memiliki unit usaha yang produktif sehingga dapat membantu menopang kebutuhan operasional lembaga sekaligus menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.
“Harapan kami bukan hanya menghadirkan pesantren yang unggul dalam pendidikan agama, tetapi juga mampu melahirkan santri yang memiliki kemampuan berwirausaha, memahami digitalisasi, serta siap mandiri ketika kembali ke tengah masyarakat,” ungkap Gus Hanif.
Menurutnya, potensi usaha yang dimiliki pesantren sangat beragam. Mulai dari produk olahan makanan seperti keripik usus, budidaya ikan air tawar seperti nila, gurami, dan lele, hingga peternakan kambing maupun ayam. Potensi tersebut diyakini dapat berkembang lebih besar apabila didukung dengan peningkatan kapasitas pengelolaan usaha.
“Program seperti ini kami harapkan tidak berhenti di sini, tetapi terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pondok pesantren. Dengan pendampingan yang berkesinambungan, kami optimistis pesantren dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus mencetak generasi yang mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya.




Discussion about this post